Menyayangi Binatang

BismillahirRahmaanirRahiim

Dear All,

Beberapa hari lagi kita rayakan Idul Qurban. Saya tidak ingin membahas tata pelaksanaan Idul Qurban, itu saya percayakan kepada para ulama dan ustadz yang mulia. Yang ingin sekadar saya sampaikan kepada siapapun yang akan melaksanakan penyembelihan hewan kurban untuk TIDAK memukul-mukul, menyorak-nyoraki, membuat stres, menyakiti apalagi menyiksa hewan kurban sebelum disembelih. Itu dilaknat Allah. Nabi mengajarkan kita agar hewan yang mau dikurbankan jangan dibuat stress, dengan menjaga agar hewan kurban yang akan mau disembelih tidak boleh melihat hewan-hewan kurban lain disembelih.

Bahkan pisau untuk menyembelih tidak diperlihatkan kepada hewan kurban kecuali pas detik-detik penyembelihan. Itu semua untuk mengurangi stress hewan kurban. Hewan juga punya emosi dan perasaan, sehingga kita manusia harus bisa menjaga emosi dan perasaan hewan dengan menyayanginya. Nabi saw. bersabda: “Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR Al-Bukhari no. 6013). Dalam kesempatan lain Nabi saw. juga bersabda Laa tunza’ur rahmatu illaa min syaqiyyin.” Artinya: Rasa kasih sayang tidaklah dicabut melainkan hanya dari orang-orang yang celaka. (HR Ibn Hibban) dan dalam kesempatan lain lagi Nabi bersabda, yang artinya: “Sayangi yang ada di bumi, maka akan menyayangimu apa yang ada di langit.” Di situ Nabi tidak hanya membatasi sayang kepada sesama muslim, tapi juga kepada non-muslim, binatang, tumbuhan-tumbuhan dan seluruh makhluk hidup harus kita sayangi. Nabi bersabda “Man laa yarhaminnaasa laa yarhamhullaah” artinya: “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya.” (HR Turmudzi). Di lain kesempatan Nabi juga bersabda, “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi.” Kemudian para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, semua kami pengasih” Berkata Rasulullah, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (sesama muslim), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia apapun keyakinan atau agamanya).” (HR Ath-Thabrani)

Kasih sayang kepada semua makhluk hidup adalah akhlak (budi pekerti) yang sangat mulia di sisi Allah. Bahkan kasih sayang terhadap hewan merupakan sebab bagi rahmat dan ampunan Allah. Dari Abu Hurayrah ra, Rasulullah saw bersabda, “Ketika tengah berjalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Dia turun ke suatu sumur dan meminum darinya. Tatkala ia keluar tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang sedang kehausan sehingga menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah yang basah. Orang itu berkata: “Sungguh anjing ini telah tertimpa (dahaga) seperti yang telah menimpaku.” Ia (turun lagi ke sumur) untuk memenuhi sepatu kulitnya (dengan air) kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya lalu naik dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berterima kasih terhadap perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) kepada binatang?” Beliau bersabda: “Pada setiap (yang memiliki) hati yang basah maka ada pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Pada hadits riwayat lainnya disebutkan, bahkan seandainya pun orang itu seorang yang kurang taat dalam agama, dapat pahala diampuni oleh Allah dengan menyayangi binatang.

Menyayangi binatang berarti memperhatikan hak-hak binatang, yaitu antara lain:

1. TIDAK BOLEH menyiksa dan menyakiti binatang
“Seorang wanita disiksa karena kucing yang dikurungnya sampai mati. Dengan sebab itu dia masuk ke neraka, (dimana) dia tidak memberinya makanan dan minuman ketika mengurungnya, dan dia tidak pula melepaskannya sehingga dia bisa memakan serangga yang ada di bumi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abdullah bin Umar ra)

2. Memperhatikan pemberian makanan
Nabi saw bersabda: “Bila kamu melakukan perjalanan di tanah subur, berilah binatang (tunggangan) itu haknya. Bila kamu melakukan perjalanan di bumi yang tandus maka percepatlah perjalanan.” (HR. Al-Bazzar)

3. Tidak memeras tenaga binatang secara berlebihan
Dari sahabat Abdullah bin Ja’far ra. ia berkata: Nabi saw. pernah masuk pada suatu kebun dari kebun-kebun milik orang Anshar untuk suatu keperluan. Tiba-tiba di sana ada seekor unta. Ketika unta itu melihat Nabi saw. maka ia datang dan duduk di sisi Nabi saw. dalam keadaan berlinang air matanya. Nabi saw. berseru, “Siapa pemilik unta ini?” Maka datang (pemiliknya) seorang pemuda dari Anshar. Nabi saw bersabda, “Tidakkah kamu takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam (memperlakukan) binatang ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikanmu memilikinya?! Sesungguhnya unta ini mengeluh kepadaku bahwa kamu meletihkannya dengan banyak bekerja.” (HR. Abu Dawud dll)

4. Menajamkan pisau yang akan digunakan untuk menyembelih dan TIDAK BOLEH memperlihatkan pisau kepada hewan kurban agar TIDAK STRES kecuali pas detik-detik penyembelihan.
Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Bila kamu membunuh maka baguskanlah dalam membunuh dan bila menyembelih maka baguskanlah dalam cara menyembelih. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan belatinya dan menjadikan binatang sembelihan cepat mati.” (HR. Muslim). Dan Nabi saw. menegur orang yang memgasah dan memperlihatkan pisau kepada bakal hewan kurban yang akan mau disembelih, dengan sabdanya: “Mengapa kamu tidak mengasah sebelum ini?! Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali?!” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi)

5. Tidak memberi cap dengan besi yang dipanaskan pada wajah binatang
Sahabat Ibnu A’bbas ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw. melewati seekor keledai yang dicap pada wajahnya, maka beliau mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat orang yang memberinya cap.”(HR. Muslim)

6. Tidak menjadikan binatang yang hidup sebagai sasaran dalam latihan memanah dan yang semisalnya 
Sahabat Ibnu U’mar ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw. mengutuk orang yang menjadikan sesuatu yang padanya ada ruh sebagai sasaran untuk dilempar.” (Muttafaqun ‘alayh).

Oleh sebab itu, mari kita sempurnakan rasa kemanusiaan kita dengan rasa sayang pula kepada semua makhluk hidup lainnya. Atau dalam bahasa Catatan Harian Membuka Hati (CHMH):

A’udzuu billahi minasy syaithonir rajiim
BismillahirRahmaanirRahiim

Sayangilah semua makhluk-Nya, maka engkau akan disayangi oleh-Nya
Layanilah dengan tulus sesama makhluk-Nya, maka engkau akan dicukupkan rezeki oleh-Nya
Sayangi dan layani karena-Nya, maka engkau akan dicurahkan berkah tiada habis dan rasa bahagia oleh-Nya.
~ Wiyoso Hadi (18 Januari 1975- )

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu, menyakiti, menyiksa, membuat stress) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” 
( QS. Al-Maa’idah, ayat ke-2 )

amiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *