All (Kebajikan) in One Panca Laku

Dalam PancaLAKU sudah tercakup sifat-sifat nabi yang Amanah (terpercaya), Tabligh (menyampaikan dan menyebarluaskan kebenaran firman-Nya), dan Fathonah (cerdas). Ketiga sifat tersebut semuanya sudah inheren, tercakup dan sekaligus merupakan buah atau hasil dari PancaLAKU.

Buktinya adalah: orang yang lurus (shiddiq) pasti juga seorang yang amanah. Sebaliknya seorang yang amanah juga pasti seorang yang lurus dalam ilmu dan tindakan, kalau tidak ia tidak akan dipercaya/diamanahi.

Kemudian orang yang rendah hati (tawadhu’), lurus (shiddiq), tulus (Ikhlas), dan zuhud pasti juga seorang yang tabligh, yaitu menyampaikan kebenaran tidak hanya dalam ucapan tapi juga dalam tindakan dan sikap yang rendah hati, lurus, tulus dan zuhud. Sebaliknya seseorang yang mengaku tabligh namun dalam keseharianya tidak rendah hati (sombong), tidak lurus (bohong/curang/nipu/korup), tidak tulus dan tidak zuhud, maka itu berarti ia tabligh menyampaikan/menyebarluaskan firman-firman Tuhan baru sebatas ucapan namun belum diwujudkan dalam amalan (Laku) dan kebiasaan sehari-hari.

Kemudian orang yang rendah hati, lurus, tulus dan zuhud pasti juga seorang yang fathonah (Cerdas secara ESQ) alias tidak sebatas cerdas/pandai berkata-kata tapi dapat mengimplementasikan kata-katanya dalam tindakan nyata yang rendah hati, lurus, tulus dan zuhud. Banyak orang bisa bicara dan mengajar soal rendah hati (tawadhu’), lurus (shiddiq), tulus (Ikhlas), dan zuhud. Namun hanya mereka yang benar-benar rendah hati, lurus, tulus dan zuhud dalam kesehariannya dan bukan bicara saja tanpa aksi, adalah yang benar-benar fathonah, karena dengan kecerdasan ESQ-nya itu dapat mengimplementasikan kata-katanya, ceramah-ceramahnya, dakwah-dakwahnya dalam amalan-amalan nyata yang rendah hati, lurus, tulus dan zuhud di mana pun ia berada.

Terakhir, pada puncak PancaLAKU fanafillah, maka ego/nafsu sudah hilang, zero, nol sehingga dengan sendirinya hati (Kalbu), pikiran, jiwa, kata-kata, tindakan, perilaku dan kebiasaan-nya sehari-hari tidak lagi dipengaruhi oleh ego/nafsu pribadi, tapi semata-mata hanya dipengaruhi oleh kehendak Allah ta’ala semata yang memancarkan 99 (lebih) Sifat-Sifat Asma’ul-Husna Allah dalam seluruh relung hati, pikiran, jiwa, kata-kata, tindakan, perilaku dan kebiasaan sehari-hari, termasuk/ tercakup pula di dalamnya memancarkan sifat-sifat amanah, tabligh, fathonah para nabiyullah, dan bermiliar-miliar sifat-sifat kebajikan positif lainnya yang tiada lain merupakan manifestasi/ perwujudan dari 99 (lebih) Sifat-Sifat Asma’ul-Husna Allah melalui si hamba Allah yang telah mencapai fanafillah itu.

Intinya, seluruh sifat kebajikan dan amalan-amalan mulia (akhlakul-karimah) para nabi dan a’wliya’ akan tercakup dan terpancar saat orang itu sudah mengamalkan seluruh PancaLAKU. Jika tidak, maka ia belum 100% mengamalkan PancaLAKU.

 

~ Yos W. Hadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.