Membangun Keluhuran Bangsa, Negara yang Solid dan Persaudaraan Dunia

Sejarah membuktikan bahwa pasukan dan bangsa yang lebih besar dan lebih canggih persenjataannya bisa hancur oleh pasukan dan bangsa yang kecil dan kalah canggih persenjataannya, namun SOLID berjuang di jalan-Nya dan JITU dalam rencana dan eksekusi STRATEGI tempurnya. Lihatlah saja data-data komparasi pasukan-pasukan yang bertempur di Khaybar dan Hunayn pada masa Rasulullah saw. Pasukan Rasulullah saw. lebih kecil tapi solid sehingga dapat memenangkan pertempuran dengan minimum korban jiwa.

Masalahnya di Indonesia, banyak pejabat dan pengambil kebijakan di eksekutif, legislatif, dan yudikatif masih banyak yang menjadi penyembah-penyembah jabatan, pangkat, kekuasaan, seks, harta, uang dan iming-iming duniawi lainnya. Sehingga mudah diperbudak (baca: “gampang dibeli”) pihak asing atau di-“pelihara” oleh para pengusaha nakal dengan iming-iming dukungan kekuasaan, seks, harta, uang dan atau lain-lainnya. Akibatnya banyak pejabat dan parpol menyimpang dari jalan-Nya dan saling berebut jabatan, pangkat, kekuasaan, uang, harta untuk melanggengkan kekuasaan. Alias antar pejabat dan parpol TIDAK SOLID, yang dipikirkan hanya kepentingan pribadi dan parpol-nya saja. Prinsip mereka right or wrong is my party, tiada teman dan musuh abadi kecuali kepentingan. Na’udzubillahi min dzalik.

Nah, bagaimana mungkin bangsa dan negara bisa solid, kuat dan maju jika para pemimpin atau pengambil kebijakan di negeri ini tidak solid di jalan-Nya. Dan bagaimana mungkin para pemimpin mau solid jika tidak bisa melepaskan egonya masing-masing. Dan bagaimana mungkin bisa terlepas dari perbudakan ego sendiri jika tidak amalkan PancaLAKU.
Di mana level pertama PancaLAKU Rendah Hati membuang ego 20% dari kalbu/batin yang mengamalkannya.
Level kedua PancaLAKU Lurus membuang ego 40%.
Level ketiga PancaLAKU Tulus membuang ego 60%.
Level keempat PancaLAKU Zuhud membuang ego 80%.
Level kelima PancaLAKU Fanafillah membuang ego 100% dari kalbu/batin yang mengamalkannya.
Hingga di hati/kalbunya tiada lagi “tuhan-tuhan” selain DIA. Itulah TAUHID SEJATI, TAUHID HAKIKI. Dan itulah ciri mental-batin para anggota inti pasukan Imam Mahdi lintas agama kelak. Sang imam, satrio piningit pada zamannya, takkan “muncul”, takkan keluar dari persembunyian identitas pribadinya, sebelum pasukannya siap tempur secara batin-ruhani. Seperti kata Sayyidina Salman al-Farsi ra, “Antar sesama anggota pasukan spiritual saling mengenal, meski tidak pernah bertemu sebelumnya, karena terhubung oleh ikatan spiritual yang sangat kokoh.” Yaitu, terhubung secara spiritual sejak masih dalam alam arwah sebelum ruh-ruh itu masuk ke dalam rahim ibunya dan lahir dengan raga bayi. Maka seorang Imam Mahdi tidak perlu mengaku-mengaku apalagi memproklamirkan diri, karena pasukannya akan “mengenali” dan datang dengan sendirinya menghadap dan bay’at (berikrar janji setia) kepadanya, karena mereka tahu secara spiritual/secara ladunni bahwa dia lah sang Imam yang telah dipilih oleh-Nya sejak zaman azali. Dus, seorang yang rendah hati, lurus, tulus, zuhud belum tentu fanafillah, namun seorang yang fanafillah sudah pasti rendah hati, lurus, tulus, zuhud karena sudah lepas 100% dari perbudakan egonya sendiri. Secara psikologis-spiritual, orang yang tidak amalkan PancaLAKU, berarti masih penyembah atau menuhankan egonya sendiri.

Jika semua pejabat, mulai Presiden hingga semua oposisi-oposisinya di DPR/DPRD dan di birokrasi pemerintahan mengamalkan PancaLAKU, maka pemerintah dan negara bisa jaya. Sebab pertolongan Tuhan akan bekerja total melalui tangan-tangan pemerintah dalam mengurus negeri ini. Indonesia kini dengan laju pertumbuhan ekonomi terbaik dunia nomor 2 setelah Cina, jika amalkan PancaLAKU i’nsya Allah bisa menjadi negara superpower yang lebih besar dari Amerika, atau Mesir Kuno atau Imperium Romawi kuno zaman lalu. Maksudnya, tidak lebih besar dari segi ekspansi wilayahnya tapi lebih besar dari segi ekspansi pengaruh spiritual budayanya yang universal-lintas agama-bersahabat dan didukung dengan kestabilan dan kemakmuran ekonomi mandiri berbasis pengolahan sumber daya alam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan (Green Economy dan/atau Blue Economy). Semua sudah tercatat potensi-potensi takdir apa saja yang terjadi di masa depan di Lawh al-Mahfuz, tinggal kita mau tidak mengamalkan PancaLAKU untuk menjemput dan mewujudkan takdir Kejayaan itu. Atau dalam bahasa CHMH :

A’udzuu billahi minasy syaithonir rajiim
BismillahirRahmaanirRahiim

….masa depan dan kodrat adalah potensi…
takdir adalah potensi yang telah teraktualisasi

tiada takdir terjadi tanpa kehendak “awal” Sang Esa
dan usaha “akhir” sang hamba

takdir ALLAH baik semuanya,
tapi hanya dengan usaha yang sempurnalah
maka takdir terbaik pun akan menemui hidup kita.

“… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
( QS. Ar-Ra’du, ayat ke-11 )

Alhamdulillah selama ini, apa yang dibisikan oleh suaraSUARA CAHAYA itu, “beberapa” telah menjadi kenyataan 10 tahun, 20 tahun atau 30 tahun kemudian. Berdasarkan “bisikan-bisikan” CAHAYA itu, si lemah banyak dosa ini “melihat”, “merencanakan” dan “bekerja” membantu para hamba-hamba saleh yang dirahmati oleh Allah, yang “beliau-beliau” itu seperti Sayyidina U’ways al-Qoroni ra., tak dikenal oleh penduduk dunia, namun sangat dikenal oleh para “penduduk langit”, untuk mengubah “masa depan” orang-orang, agar hidup lebih PancaLAKU-is dengan izin Allah.

“Maka tetaplah kamu pada jalan (HIDUP) yang LURUS, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
( QS. Huud, ayat ke-112 )

Banyak orang ingin mengubah bangsa, negaranya bahkan dunia menjadi tempat yang adil damai, yang bebas dari segala kebejatan moral dan ketidakadilan sosial, namun jika itu dilakukan TANPA mengubah dulu batinnya agar terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan egonya sendiri, maka itu semua sekadar wacana dan/atau komoditas politik/promosi bisnis dan/atau ambisi duniawi pribadi saja. Na’udzu billahi min dzalik.

Sebagian orang mengira, ada beberapa pejabat-pejabat tinggi negara, budayawan-budayawan, agamawan-agamawan, militer, hakim-hakim, profesor-profesor, orang-orang keluarga kesultanan di Nusantara, orang-orang bule dan orang-orang asing lintas benua lainnya, diam-diam ikut dan terus menyimak uraian si yos, karena si yos anteng-anteng menggunakan kekuatan mental pikiran. Maka dapat diklarifikasikan bahwa si yos bukan mentalist dan tidak menggunakan kekuatan mental pikiran, tapi sekadar menggunakan kekuatan/kepekaan hati. Dan hati/batin kita bisa kuat/bisa peka jika terbebas dari segala perbudakan hawa nafsu dan ego pribadi melalui PancaLAKU. Yaitu:

Level 1 PancaLAKU, Rendah Hati: terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan ego 20%
Level 2 PancaLAKU, Lurus: terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan ego 40%
Level 3 PancaLAKU, Tulus: terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan ego 60%
Level 4 PancaLAKU, Zuhud: terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan ego 80%
Level 5 PancaLAKU, Fanafillah: terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan ego 100%

Oleh sebab itu jika ingin mengubah bangsa, negara bahkan dunia menjadi tempat yang adil damai, bebas dari segala kebejatan moral dan ketidakadilan sosial, maka amalkanlah dulu PancaLAKU! Mereka yang sudah mengamalkan PancaLAKU tidak perlu lagi jabatan, uang, “status” ataupun popularitas agar orang-orang diam-diam atau terang-terangan mau ikut dan terus menyimak ujaran-ujaran dan nasehat-nasehat-nya. Karena mereka yang mengamalakan PancaLAKU selalu “di bawah bimbingan petunjuk spiritual” (bahasa arabnya: “mahdi”) dan pertolongan TUHAN YANG ESA. Atau dalam bahasa CHMH:

A’udzuu billahi minasy syaithonir rajiim
BismillahirRahmaanirRahiim

Ordinary people need either rank or money or both to influence people
Pure hearted friends of God just need a few words
to change people to be a better persons
Those powers to change come from neither their words nor their minds
But come from their pure hearts where those inspirations of words coming through.

[Terjemahan bebas-nya]
Orang-orang biasa butuh jabatan atau uang atau kedua-duanya untuk pengaruhi orang-orang
Wali-wali Allah yang berhati bersih hanya butuh sedikit kata-kata untuk mengubah orang-orang jadi pribadi-pribadi yang lebih baik
Kekuatan-kekuatan untuk “mengubah” itu bukan berasal dari kata-kata mereka ataupun pikiran mereka
Tapi berasal dari hati bersih mereka (“karena Amalan PancaLAKU”) darimana ilham-ilham kata-kata itu datang melaluinya.
(June, 2008)

” Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang Kekuatan Spiritualmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (dalam menundukkan ego dan hawa nafsu).”
( QS. Al-A’nfaal, ayat ke-46 )

Leave a Reply

Your email address will not be published.