Obat Bahagia (the King Medicine of HAPPINESS)

BismillahirRahmaanirRahiim

Dear All,

In the end, the king medicine of all medicines of Happiness, source of all sources of Happiness, as well as the climax of all gratefulness and love to God is (in Bahasa: Pada akhirnya obat segala obat Bahagia, sumber segala tombo ati, sekaligus puncak segala syukur dan cinta kita kepada Tuhan adalah) :“Grief comes from ego, eternal happiness comes from the annihilation of the ego in God’s Will (Fanafillah).”

~Yos Wiyoso Hadi (January 18, 1975 – )

[In Danish]
“Sorg kommer fra ego, evig lykke kommer fra udslettelse af egoet i Guds vilje.”

[In Norwegian]
“Sorg kommer fra ego, evig lykke kommer fra utslettelse av ego i Guds vilje.”

[In Finnish]
“Suru tulee egosta, ikuinen onni tulee egon kuolema sisään Jumalan tahto.”

[In Swedish]
“Sorg kommer från jaget, evig lycka kommer från förintelse av jaget i Guds vilja.”

[In German]
“Trauer kommt aus dem Ego, ewiges Glück kommt aus der Vernichtung des Ego in den Gottes Willen.”

[In Dutch]
“Verdriet komt van het ego, heteeuwige geluk komt van de vernietiging van het ego in Gods Wil.”

[In French]
“Le chagrin vient de l’ego, le bonheur éternel vient de l’annihilation de l’ego dans la Volonté de Dieu.”

[In Spanish]
“El dolor viene del ego, la felicidad eterna proviene de la aniquilación del ego en la voluntad de Dios.”

[In Portuguese]
“A dor vem do ego, a felicidade eterna vem da aniquilação do ego na vontade de Deus.”

[In Italian]
“Il dolore viene dalla ego, eterna felicità viene dal annientamento dell’io nellavolontà di Dio”.

[Slovenian]

“Žalost prihaja iz ega, ve?na sre?a prihaja iz uni?enju ega v Božji volji.”

[In Romanian]
“Triste?ea vine din ego, fericirea ve?nic? vine de la anihilare a ego în voia lui Dumnezeu.”

[In Estonian]

“Kurbus pärineb ego, igavene õnn pärineb hävimise ego sisse Jumala tahe.”

[In Bosnian]

“Žalost dolazi iz ega, vje?ne sre?edolazi iz uništenje ega u Božju volju.”

[In Maltese]

“Il-dwejjaq ?ej mill-ego, kuntentizza eterna ?ej mill-qerda ta ‘l-ego fil-rieda ta’ Alla.”

[In Swahili]
“Huzuni huja kutoka ego, furaha ya milele inatokana na uharibifu wa ego katika mapenzi ya Mungu.”

[In Filipino]
“Ang kalungkutan ay mula sa pagkamakaako, walang hanggang kaligayahan ay mula sa pagkawasak ng pagkamakaako sa kalooban ng Diyos.”

[In Bahasa]
“Duka berasal dari ego, kebahagiaan kekal berasal/datang dari fanafillah.”
~Yos Wiyoso Hadi (18 Januari 1975 – )

“Everthing upon it will perish (FANA). But will abide (forever) the Face of thy Lord (ALLAH),- full of Majesty, Bounty and Honour.”
( Ar-Rahmaan, verse: 26-27 )

ameen

— Pada Kam, 14/2/13, Yos Wiyoso Hadi menulis:

BismillahirRahmaanirRahiim

Terima kasih Ibu Erna Surjadi atas tambahan opininya dari perspektif Kristiani, saya menghargainya 🙂 matur nuwun.

Kalau “tambahan” dari pengalaman pribadi:

Obat Bahagia dan Optimis dalam segala kondisi, baik dalam suka dan duka
Adalah: selalu bersyukur kepada Tuhan dalam segala kondisi apapun jua

Dan sumber segala syukur kepada Tuhan dalam segala kondisi apapun jua
Adalah: selalu berprasangka baik kepada Tuhan dalam segala kondisi apapun jua

Dan sumber segala prasangka baik kepada Tuhan dalam segala kondisi apapun jua
Adalah: cinta seutuhnya tanpa syarat kepada Tuhan dalam segala kondisi apapun jua

Mereka yang cinta total kepada Tuhan akan selalu berprasangka baik kepada-Nya, bersyukur, bahagia, dan optimis dalam segala kondisi apapun jua

Kemudian untuk pertanyaan Ibu Endang Subagyo perihal waswas kalau sholat dan doa tidak diterima Tuhan, tanggapan saya adalah sbb:

Selama orang yang sholat dan doa itu masih dikuasai ego (kramadangsa), maka orang itu bisa saja waswas, cemas dan takut jika sholat dan doanya tidak diterima/dikabulkan Tuhan. Hanya orang-orang yang sudah Fanafillah (egonya sudah hilang/lenyap dalam kehendak Tuhan) atau minimal sudah mencapai level 3 Pancalaku, yaitu: IKHLAS, Legowo dan Selalu Berprasangka Baik kepada Tuhan, TIDAK AKAN waswas, cemas ataupun takut andai sholat dan doanya tidak diterima/dikabulkan Tuhan. Hati dan jiwa orang-orang yang IKHLAS, ZUHUD apalagi FANAFILLAH selalu damai-tentram-bahagia, meskipun keinginan doanya tidak dikabulkan Tuhan karena mereka selalu legowo dan berprasangka baik kepada Tuhan, bahwa apapun keputusan Tuhan terhadap hidup dan nasib mereka adalah selalu keputusan-Nya yang terbaik dan sempurna. Ini seperti ketika Nabi Nuuh a’layihis salam sholat dan berdoa agar putranya tidak kena azab Tuhan. Namun Tuhan tidak mengabulkannya, dan Nabi Nuh as. samasekali tidak protes ataupun sedih tapi tetap legowo dan berprasangka baik kepada Tuhan. Hal itu karena jiwa Nabi Nuh sudah Fanafillah. Semoga kita semua dapat mencapai jiwa fanafillah Nabi Nuh as. Salaamun a’laa nuuhin fil aa’lamiin.

“Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; Salam kesejahteraan dilimpahkan buat Nuh di seluruh alam.”
( QS. Ash-Shaaffat, ayat ke-78 sd. ke-79 )

amin

— Pada Ming, 10/2/13, Dr. Erna Surjadi menulis:

Mas Yos dan sahabat2 Suara ysh,

Ada sedikit tambahan opini, semoga berkenan…
Terlepas dari agamanya apa – kata Hope (harapan)itu ‘akar’ dari ‘kehidupan’… – it’s a positive curve…
Seorg bayi ketika menangispun- menaruh harap…
Harap akan ‘perubahan’; yg lebih baik; yg positif; percaya akan perlindungan dan lain sebagainya…

Bagaimana ‘menumbuhkan’ / ‘memelihara’ harapan dl kehidupan…?
Hopeless itu lawannya hopeful – orang yg ‘putus harapan’ lawannya adalah yg ‘selalu berharap’…
Banyak org berpikir menaruh harapan itu sekedar ‘sperti pasang lotere’ bahkan tanpa modal apa2 – sebenarnya perlu modal ‘utama’: ‘percaya’/ faith pada yg Kuasa (Allah YME) pada CintaNYA yg tak berkesudahan – bahwa Allah selalu bekerja untuk ‘Kebaikan umatNYA’ bukan utk kejelekan… Ada musibah pasti ada hikmahnya…
Maka pengetahuan akn hal2 yg ‘disukai’ Allah perlu dimiliki… Jangan berharap yg ‘jelek2’ atau membri penderitaan pd org lain takkan disetujui Allah…

Seseorg yg mau ‘naik posisi’ pasti ada ujiannya… Ada ujian kalau lulus pasti naik levelnyaa…
Maka memang benar; mengucap syukurlah senantiasa – apapun juga; smua ada maksudNya — Allah mampu mengubah segala sesuatu; tiada satupun yg mustahil bagiNYA!

Ada yg berkilah – sy tidak mampu, tidak kuat…; mana bisaa…?; namun semua mujizat memang terjadi krn Kuasa Allah bukan krn kekuatan kita sendiri — percayalah!

HOPE itu membakar spirit, semangat n menguatkan kita; membuat kita ‘berjalan’ kembali…
Allah adalah ‘the un-failing LOVE’… IA Maha KUASA!

Allah tidak akan membiarkan anak2NYA; kalaupun ia jatuh tak sampai tergeletak krn Tangan Allah menopang tangannya…

Allah memang tak menjanjikan ‘bunga2’ sepanjang jalan kita…; namun IA menjanjikan kekuatan dan Kasih yang tak berkesudahan disepanjang jalan hidup kita…
Betapapun ‘berat’ jalan hidup kita…; itu hanyalah ‘ujian’ utk naik level, never give up… Keep on moving… Allah selalu beserta umatNya yg menaruh Percaya padaNYA…

Nothing is perfect in this world… God knows…
God is watching from the distance…
God has never let the seeds on your hands dried up…

Kita diciptakan unik berbeda2 st sama lain untuk saling mengisi dan mendukung keberhasilan keharmonisan hidup bersama… Bagi kebaikan umat manusia…
Maka jalankanlah amanah dan spirit kehidupan sesuai FirmanNya…
We try our Best and God will do the rest…!
(Sampai kehidupan memisahkan kita dan kembali pada AlKhalik…)

Keep positive thinking – it is a flow of happiness…!
Most of all: keep the Love, Faith and HOPE…!

Es

From: Yos Wiyoso Hadi

BismillahirRahmaanirRahiim

Dear All,

Ini ada satu pertanyaan menarik dari salahsatu adik-adik penyimak PANCALAKU, beliaunya kurang lebih nanya sbb:”Kak, kalau obatnya hopeless itu apa ya?” Jawaban saya spontan saja:

Dzikrullah, dzikr dengan ikhlas kepada Allah, istighfar kepada Allah, syukur kepada semua kenikmatan yang diberikan kepada kita, lebih banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita daripada ujian dan cobaan yang menimpa kita, bahkan sedetik tarikan nafas kita takkan dapat kita bayar/balas kepada Allah andai pun seluruh kekayaan dunia ada dalam genggaman kita ataupun andaipun seluruh detik hidup kita isi dengan ibadah takkan bisa membalas sedetik tarikan nafas yang Allah karuniakan kepada kita itu. Berprasangka baiklah selalu kepada Allah baik dalam suka dan duka maka hopeless takkan pernah menghinggapi kita. Siapapun yang telah menyadari dan mengamalkan ini takkan lagi menyembah Tuhan karena pamrih surga. Tapi ibadahnya murni ibadah yang lahir dari rasa syukur dan cinta demikian besar melimpah ruah tak terhingga kepada Tuhan Yang Esa. Salam.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar ( melimpah tak terhingga yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).”
( QS. An-Naml, ayat ke-73 )

amin

— Pada Rab, 30/1/13, SJAHRUL AMIN menulis:

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’Alaikum ww.

Mas Yos dan rekan serta para sahabat Suara Hati, yg selalu dalam lindungan Allah swt.
“Orang-orang yang telah mengetahui ketergantungan mutlak manusia dan kekayaan mutlak Allah swt. tidak pernah menganggap apapun yang mereka lakukan sebagai sempurna.
Alhasil, mereka tidak akan menyembah Allah swt. karena berharap imbalan surga. Mereka akan menyembahNya karena Dia layak untuk disembah. Ibadah mereka adalah ibadah rasa syukur atau cinta”.

 

(Abu Muhammad Zainal Abidin, Napas Sang Pengasih, Al Huda, hal.205.)

Barangkali mas Yos bisa lebih memberikan pencerahan terhadap kutipan di atas.
Atas kesedian mas Yos saya ucapkan terima kasih.

Bandung, 30 Januari 2013,
Sjahrul Amin as Singkili.

Dari: Yos W. Hadi

BismillahirRahmaanirRahiim
Alhamdulillah Bang Sjahrul As-Singkili, usia Abang 1,6 kali lipat dari usia si junior ini, tapi semangat Abang untuk bersama-sama mengubah kondisi sosial masyarakat agar lebih baik luar biasa, alhamdulillah. Senang sekali saya. Kabar terakhir soal korupsi 34 milyar hanya diganjar 4,5 tahun penjara dan tidak perlu kembalikan uang sungguh amat sangat keterlaluan dan sangat tidak berperikeadilan. Artinya apa? Perjuangan kita masih panjang, dan andaipun hingga akhir masa hidup kita tidak dapat menikmati Indonesia yang benar-benar adil-sejahtera, tapi kita tidak boleh goyah dan hilang semangat. Tetap militan dalam kebaikan meskipun ekstremnya harus berjuang sendirian, ya harus teguh dalam militansi kebaikan yang tinggi. Nah, mempertahankan militansi kebaikan yang tinggi itu sulit tanpa PANCALAKU. PANCALAKU bukan teori, bukan filsafat, bukan dogma di awang-awang, tapi APLIKASI NYATA untuk menghapus korupsi dan berbagai penyakit sosial lainnya di muka bumi. Ingin basmi Korupsi? Ber-PANCA LAKU-lah! Dan pertolongan Tuhan kan selalu bersama kita.

Kemudian mengenai pernyataan Bang Sjahrul, [quote] Menurut hemat saya, manusia yang sdh fanafillah yang diharapkannya adalah hanya cinta dan kasih sayang Allah swt.[unquote], punten Bang kalau menurut pengalaman junior ini selama hampir 30 tahun sejak usia 8/9 tahun dalam melakoni pengendalian (tirakat) batin secara otodidak, maka pada level 3 sd 4 Pancalaku: IKHLAS dan ZUHUD, sang hamba saleh masih mengharap cinta dan kasih sayang Allah Swt. Namun saat sudah sampai Fanafillah, mereka yang sudah mencapai Fanafillah, tidak lagi mengharap cinta dan kasih sayang Allah Swt. Karena ia-nya/ego-nya telah musnah dan menyatu dalam KARSA KASIH ILAHI ALLAH itu sendiri.
Orang-orang yang sudah mencapai FANAFILLAH, tidak perlu lagi membuktikan dirinya Pengasih, Penyayang, Orang Baik dsb. karena mereka (ego mereka) sudah musnah dan menyatu dalam Samudra Kasih Sayang dan Kebaikan ILAHI ALLAH. Sehingga dalam diam pun orang-orang yang FANFILLAH memancarkan aura Kasih, Kebaikan, Kebajikan tanpa perlu mengungkapkan atau membuktikannya kepada dunia.
16 tahun silam ketika baru masuk kerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) saat reformasi birokrasi belum ada kala itu, banyak rekan kerja heran mengapa tidak ada satu atasan pun yang berani untuk ajak si anak bawang, baru kemarin sore, yos hadi untuk korup, padahal si yos tidak pernah berkoar-koar apalagi demonstrasi anti-korupsi. Bahkan sistem birokrasi yang sudah korup pun tidak dapat memaksa si yos untuk korup? Jawabannya jika sudah Fanafillah maka tak ada yang dapat menghentikan kita, karena ego kita telah musnah dan menyatu dalam KARSA ILAHI ALLAH/Kehendak dan Pertolongan Ilahi.
Saya bilang 16 tahun lalu bahwa: “Bukan saya yang berubah tapi DJP yang akan berubah menjadi bersih!” Dan apa yang terjadi 16 tahun kemudian? Saudara-Saudara tentu reformasi birokrasi yang sekarang berjalan di DJP adalah kerja keras banyak kawan-kawan DJP. Tapi yang saya maksud di sini adalah seorang yang sudah FANAFILLAH tidak perlu menunggu orang-orang lain, atau sistem negara untuk berubah agar menjadi baik. Tapi orang-orang yang sudah FANAFILLAH tetap KASIH, BAIK, BIJAK ketika lingkungan dan sistem di sekitarnya Korup. Orang-orang yang FANAFILLAH tetap teguh militan dalam kebaikan tidak ikut-ikutan gila atau terbawa arus ketika dunia hancur atau zaman edan. Orang-orang yang sudah FANAFILLAH tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan atau sistem yang korup, tapi justru sebaliknya memberi warna harapan akan hari esok yang LEBIH BERSIH karena orang yang sudah FANAFILLAH egonya telah musnah dan menyatu dalam KARSA ILAHI ALLAH/Kehendak dan Pertolongan Ilahi.
Itulah mengapa beberapa pejabat-pejabat tinggi negara, profesor-profesor, jenderal-jenderal, agamawan-agamawan, tokoh-tokoh masyarakat Indonesia dan dunia, saya kumpulkan dalam milist Gerakan PANCALAKU SUARAHATI, untuk memberi harapan kepada Anda semua untuk jangan menyerah mereformasi bangsa dan dunia ini. Amalkanlah PANCALAKU hingga mencapai FANAFILLAH maka Anda menjadi bagian dari KARSA dan PERTOLONGAN ALLAH itu sendiri. Tak ada yang dapat menghentikan Anda ketika ego anda telah musnah (FANA) dan menyatu dalam KARSA ILAHI ALLAH/Kehendak dan Pertolongan Ilahi.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (saat Fanafillah).”
( QS. Al-Baqarah, ayat ke-214 )

amin

— Pada Kam, 10/1/13, SJAHRUL AMIN menulis:

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu ‘Alaikum ww.

Mas Yos, Para sahabat dan rekan2 Suara Hati yg mdh2an selalu dalam lindungan Allah swt.
Menurut hemat saya, manusia yang sdh fanafillah yang diharapkannya adalah hanya cinta dan kasih sayang Allah swt.
Saya teringat pada saat pengkaderan salah satu partai di Indonesia berbasis Islam pada beberapa tahun yang lalu. Ketika salah seorang instrukturnya menyampaikan bahwa tujuan panjang partai ini adalah mengharapkan surganya Allah, saya bertanya bgmn dengan lagunya alm. Chrisye, yang baitnya kira2: “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepadaNya …………”‘
Sang instruktur berkata : “Kalau begitu kita tdk perlu berada disini!”
Sejak saat itu saya tidak masuk kelas lagi dan sampai sekarang saya selalu ingat. Alhamdulillah di ujung usia ini ada lagi seorang anak muda yg menyatakan bahwa yg kita cari adalah kasih sayang Allah swt.
Ya Allah, bimbinglah kami semua utk mendapatkan Rahman dan RahimMu. Amin

Bandung, 10 Januari 2013,
Sjahrul Amin as Singkili.

Dari: Yos Wiyoso Hadi

BismillahirRahmaanirRahiim

Alhamdulillah Kang Dodi, hatur nuhun. INTEGRITAS menurut Nilai-Nilai Kementerian Keuangan adalah berpikir, berkata, berperilaku dan betindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral. Ada dua perilaku utama untuk menjadi yang berintegritas, yaitu: (1) bersikap jujur, tulus dan dapat dipercaya; dan (2) menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal tercela. Dalam dimensi PANCALAKU, integritas adalah LEVEL 2 Pancalaku SHIDDIQ (LURUS-JUJUR) dalam setiap kata, perbuatan dan segala aspek kehidupan. Dan seseorang tiada mungkin mencapai puncak atau optimal LURUS-JUJUR alias SHIDDIQ alias BERINTEGRITAS 100% sebelum mencapai dasar LEVEL 3 Pancalaku TULUS (IKHLAS).

Pada Level ke-3 Pancalaku TULUS (IKHLAS) inilah seseorang baru bisa mengamalkan 100% Firman-Nya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’aam ayat ke-162) Ia tidak lagi sembahyang/sholat/berdoa dan beribadah karena egonya mengharap surga dunia-akhirat atau agar terhindar dari neraka, tapi ia lakukan itu semua karena Allah. Seandainya Allah mengirimkannya ke neraka atau mendapat musibah banyak di dunia tidak akan menyurutkannya untuk tetap tekun sembahyang/sholat/berdoa dan beribadah. Karena ia, sebagaimana Nabi Ayyub as, lakukan itu semua bukan agar terhindar dari neraka dan musibah-musibah di dunia, tapi TULUS/IKHLAS semata-mata karena Allah.

Dan seseorang tiada mungkin mencapai puncak atau optimal TULUS IKHLAS 100% sebelum mencapai dasar LEVEL 4 Pancalaku ZUHUD. Dan seseorang tiada mungkin mencapai puncak atau optimal ZUHUD 100% sebelum mencapai dasar LEVEL 5 Pancalaku FANAFILLAH, yaitu hilangnya ego/diri kita ke dalam Kehendak Allah semata. Orang yang berintegritas belum tentu FANAFILLAH. Tapi seorang yang FANAFILLAH pasti berintegritas, karena untuk mencapai FANAFILLAH ia harus lulus kelima LEVEL PANCALAKU, yaitu:
Level 1: TAWADHU’ (Rendah Hati)
Level 2: LURUS (SHIDDIQ alias terminologi modernnya BERINTEGRITAS)
Level 3: TULUS (IKHLAS)
Level 4: ZUHUD
Level 5: FANAFILLAH

Reformasi di Indonesia belum bisa bersih dari birokrat-birokrat busuk, pebisnis-pebisnis busuk, politisi-politisi busuk karena reformasi bangsa tidak dimulai dari Reformasi Jiwa yang benar-benar bersih 100%, melalui LIMA (Panca) LAKU (amalan):
1. TAWADHU’ (Rendah Hati) membersihkan Jiwa hingga 20%
2. LURUS (SHIDDIQ/BERINTEGRITAS) membersihkan Jiwa hingga 40%
3. TULUS (IKHLAS) membersihkan Jiwa hingga 60%
4. ZUHUD membersihkan Jiwa hingga 80%
5. FANAFILLAH membersihkan Jiwa hingga 100%

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
( QS. Asy-Syams, ayat ke-9 sd ke-10 )

amiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.